Sinar Mas Agribusiness and Food Perkuat Kolaborasi dan Teknologi Cegah Karhutla Dampak El Nino

Sinar Mas Agribusiness and Food memperkuat kolaborasi lintas sektor dan pengembangan teknologi untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan dampak fenomena El Nino (Foto: dok. Sinar Mas Agribusiness and Food)

Jakarta, Sinar Mas Agribusiness and Food memperkuat kolaborasi lintas sektor dan pengembangan teknologi untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dampak fenomena El Nino.

Baca juga: Dongeng hingga Bernyanyi: Cara Pelajar Mengenal Bahaya Karhutla Sejak Dini

Upaya kalaborasi yang dilakukan antara lain menggelar apel siaga gabungan, latihan penanggulangan karhutla, sosialisasi berkala dengan melibatkan pemerintahan, TNI-Polri, dan masyarakat umum.

Hingga Agustus 2023, tercatat 17 kali apel siaga dan 10 kali pelatihan dasar karhutla telah diselenggarakan oleh Sinar Mas Agribusiness and Food.

Sinar Mas Agribusiness and Food memperkuat kolaborasi lintas sektor dan pengembangan teknologi untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dampak fenomena El Nino (Foto: dok. Sinar Mas Agribusiness and Food

Tak hanya itu, kalaborasi lain yang dilakukan Sinar Mas Agribusiness and Food yakni  pengembangan teknologi berbasis satelit yang mampu memberikan informasi deteksi titik panas (hotspot) tiga kali lebih cepat. Ini  dilakukan untuk mencegah dampak perubahan iklim berupa karhutla di wilayah-wilayah rawan.

Hal itu dikatakan Anselmus A. Supriyanto, Head of Fire and Peat Management Sinar Mas Agribusiness and Food

“Fenomena iklim tahun ini cukup berat sehingga membuat sebagian wilayah Indonesia sangat rentan terjadi karhutla. Kami meningkatkan pelatihan petugas dan apel siaga untuk bersama-sama membentuk kewaspadaan,”ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (21/8/2023).

Apel siaga yang didukung pemerintah setempat itu kata Supriyanto berlangsung di di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

Untuk diketahui, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, fenomena El Nino dan IOD positif saling menguatkan sehingga membuat musim kemarau tahun ini dapat menjadi lebih kering dan curah hujan pada kategori rendah hingga sangat rendah.

“Jika biasanya curah hujan berkisar 20 mm per hari, maka pada musim kemarau ini angka tersebut menjadi sebulan sekali atau bahkan tidak ada hujan sama sekali,” ujarnya dalam siaran pers yang dimuat dalam laman resmi BMKG, Senin.

Puncak kemarau kering di Indonesia kata dia diprediksi akan terjadi di bulan Agustus hingga awal bulan September.

Dibagian lain Supriyanto mengatakan, Sinar Mas Agribusiness and Food mengedepankan sinergi dengan para pemangku kepentingan di area operasional. Langkah sinergi ini misalnya tercermin melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA).

“Program yang berlangsung di Pulau Sumatera dan Kalimantan sejak 2016 ini membekali 105 desa rentan karhutla dengan pelatihan pencegahan kebakaran, infrastruktur dasar pemadaman kebakaran, serta sosialisasi dan implementasi proses peringatan dini untuk menghadapi risiko kebakaran,”katanya.

Menurut Supriyanto, kerja sama yang terjalin baik antara perusahaan dengan masyarakat dapat memperkuat komitmen bersama terhadap pencegahan karhutla.

Sejak 1997, Sinar Mas Agribusiness and Food telah menerapkan kebijakan anti-bakar untuk pembukaan lahan yang diperkuat dengan komitmen anti-kegiatan di lahan gambut (No Peat) pada tahun 2010.

Supriyanto menilai, berkat kolaborasi yang apik dengan pemangku kepentingan, manfaat baiknya pun dapat terasa hingga saat ini.

“Pada 2022 lalu, sebanyak 99,96 persen kawasan kelola perusahaan terbebas dari karhutla. Kita bersama-sama berupaya mempertahankan dan meningkatkan torehan tersebut. Sinergi yang baik melalui berbagai program harus kita jaga bersama, bukan hanya di area perusahaan, tetapi juga di seluruh wilayah rentan kebakaran. Karhutla hanya akan menimbulkan dampak buruk bagi sosial, lingkungan, dan ekonomi,” ungkapnya.

Penerapan teknologi

Sinar Mas Agribusiness and Food memadukan upaya-upaya konvensional dan teknologi mutakhir dalam mencegah ancaman karhutla.

Upaya ini didukung oleh sekitar 10.000 orang yang tergabung dalam tim KTD, yang terdiri dari karyawan perusahaan dan masyarakat siaga api (MSA) binaan perusahaan.

Mereka memiliki tugas masing-masing: ada yang bertugas di lapangan untuk melakukan patroli dan penanggulangan karhutla secara langsung, ada pula yang memantau kondisi ancaman karhutla dari ruang kontrol.

Memperkuat pengawasan karhutla salah satunya dilakukan melalui aplikasi digital GeoSMART Fire-Hotspot Monitoring Site.

 Aplikasi ini mampu memberikan informasi deteksi titik panas tiga kali lebih cepat dari proses semi-otomatis sebelumnya.

“GeoSMART dikembangkan sejak 2021, digunakan sejak awal 2022, dan terus diperbarui fiturnya hingga kini. Aplikasi ini memanfaatkan teknologi satelit NOAA, VIIRS, SUOMI, dan MODIS yang diakses otomatis dari situs SiPongi-KLHK dan atau LAPAN,”ujar Supriyanto. (Dhanny-OR2)