Ilustrasi (youtube)
SIAPA pemilik Borobudur sesungguhnya? Seperti lingkungan kita, bumi kita, pemilik Borobudur sesungguhnya adalah para anak cucu kita. Merekalah yang kelak menilai dan menagih miliknya itu kepada kita. Dan kita, seperti juga jika gagal menjaga kelestarian alam, akan menjadi catatan sebagai generasi yang gagal menyelamatkan yang semestinya dimiliki mereka.
Baca juga: Wajib Dicoba! 5 Tempat ‘Healing’ Asyik di Indonesia
Borobudur candi Budha terbesar di dunia itu –ia awalnya memiliki sekitar 500 arca- merupakan kekayaan peradaban Indonesia dalam bidang arkeologi yang tak tertadingi.
Kita perlu berterimakasih kepada Sir Thomas Stanford Raffles, gubernur jenderal Hindia Belanda yang pada sekitar 1814 menemukan candi yang dibangun pada 800 Masehi dan berabad-abad lenyap dari permukaan bumi –tertimbun batu, pasir, dan segala hal yang membuat tak siapa pun menyangka di sebuah dataran tinggi di dekat kota Magelang itu terdapat tempat persembahyangan umat Budha paling terkemuka di muka bumi.
Dengan demikian, jika mau jujur, candi itu sesungguhnya “milik” umat Budha. Raja Samaratungga-lah, dari wangsa Syailendra, yang memerintahkan pembangunan tempat ibadah umatnya, dengan perhitungan georafis dan arsitektur yang sangat mengagumkan: terletak pada kontur tanah berbukit-bukit, dekat Pantai Selatan, kedetailan relief candi, batu bata, penyusunan dan bahan pelekatnya yang hingga kini masih misteri dan sebagainya.
Inilah harta karun nusantara yang berpuluh tahun dinikmati siapa pun tanpa pernah memahami ia sesungguhnya bangunan yang sangat disucikan umat Budha. Baru pada 11 Februari lalu Pemerintah kembali menetapkan Borobudur sebagai tempat persembahyangan kembali umat Budha. Betapa lamanya, padahal mereka pemiliknya.
Jutaan orang sudah menginjak-injak tempat suci ini. Tak terhitung berapa ratus ribu orang telah hidup dari Borobudur: dari para penjual souvenir,fotografer, para pembuat film, klip video, biro wisata, pemilik hotel, dan lain sebagainya. Dan tanpa sadar, seperti apa pun bahwa segala hal di muka bumi bisa rusak, hancur, dan binasa.
Telah berpuluh tahun para ahli sejarah memperingatkan soal ini: Borobudur akan ambles jika tidak diatur beban –orang-orang- yang menaikinya; relief-nya akan hancur jika dibiarkan tangan-tangan usil memegang atau mengelusnya. Ibarat rumah, ia akan sempoyongan sebelum akhirnya rubuh, jika terus dibiarkan orang masuk menyesakinya.
Pada titik inilah, kita memerlukan, langkah penyelamatan. Dan di sini pentingnya para arkeolog, pemerintah daerah, pemerintah pusat, juga pelaku pariwisata duduk bersama untuk menyelamatkan Borobudur tanpa harus mematikan nafkah, terutama warga sekitar, yang berpuluh tahun hidup dari Borobudur. Langkah pertama yang harus dilahirkan: menciptakan kesadaran siapa pun bahwa jika tanpa diatur, maka Borobudur akan hancur. Jika itu terjadi, para anak cucu akan menuding kita sebagai generasi tak beradab. (Baskoro)