Ilustrasi (iainutuban.ac.id)
Sedekah memiliki sejumlah padanan kata: derma, infak atau sumbangan. Konsep sedekah ada pada setiap agama juga pada banyak kebudayaan manusia. Inti sedekah tidak lepas satu hal: tak membiarkan orang menderita sementara dirinya berlebihan.
Baca juga: Polres Seruyan dan Bhayangkari Bagikan Takjil Ramadhan Untuk Pengguna Jalan
Dengan demikian pada akhirnya sedekah tidak monopoli agama mana pun. Sedekah atau derma adalah wujud rasa kemanusiaan. Nilai kemanusiaanlah yang mendorong orang berderma.
Karena didorong dari rasa kemanusiaan itu, maka hakikat berderma bersifat pribadi: jauh dari rasa pamrih, pamer, atau ada kepentingan tertentu. Sedekah, derma, infak, atau sumbangan –demikian sinonimnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia- muncul semata dari rasa kemanusiaan. Dengan demikian sedekah adalah bagian dari kemanusiaan itu sendiri.
Tujuan derma jelas untuk satu hal: membantu mereka yang kekurangan. Bahwa negara berkewajiban untuk menyantuni warganya yang kekurangan itu, memang tercantum di banyak konstitusi, namun untuk hal demikian, rasa kemanusiaan itu berada di atas “bernegara.” Maka kewajiban terdekatlah memberi derma mereka yang ia lihat –dan rasa- membutuhkan, tanpa harus menunggu negara bertindak.
Untuk Indonesia akan semakin menumpuk mereka yang perlu diberi sedekah jika mesti menunggu negara turun tangan. Seandainya pun negara “turun tangan” tetap tidak ada jaminan “tangan negara” bisa menjangkau semua yang semestinya memerlukan derma itu.
Maka disitulah diperlukan rasa kemanusiaan itu muncul dari mereka yang terdekat –dari kita. Sudahkah kita melihat kiri kanan kita? Melihat siapa yang perlu uluran tangan kita? (Baskoro)