Ilustrasi (Ist)
Oleh: Lestantya R. Baskoro
Baca juga: Serangan Buaya di DAS Mentaya Masih Menghantui, Polisi Temukan Anak-Anak Bermain di Sungai
Prinsipnya sederhana tapi mungkin tak semua sudi melakukan: bersedia disuruh apa saja dan berani. Namanya Santo dan karena pekerjaannya mengandalkan disuruh-suruh orang, maka ia dikenal sebagai “Santo Suruh.”
Tiga bulan belakangan namanya moncer. Ia diwawancarai banyak media, dari siber hingga elektronik. Itu, ya karena mungkin bagi banyak orang pekerjaannya dinilai unik: siap untuk disuruh apa pun.
Di belakang itu ada lagi yang membuatnya laris-manis disuruh-suruh. Santo tak mematok ongkos atas pekerjaannya yang beraneka ragam itu: membeli tabung gas, menguburkan kucing, membuang kotoran hewan, membeli obat, mengantre tiket, membersihkan rumah, dan lain-lain.
Awalnya pekerjaan warga Bekasi ini sebatas pada tetangga kiri-kanan dan seputar pemukimannya saja. Belakangan ia memanfaatkan apa yang kini menjadi pegangan hampir seluruh orang: handphone.
Ia memanfaatkan media sosial Instagram. Ia menawarkan dirinya, mengiklankan dirinya, siap diminta bantuan apa pun. Dalam sekejap ia banjir order. Ia kewalahan, kemudian mengangkat sejumlah anak buah. Sikapnya yang santun, bekerja profesional membuat banyak pelanggannya jatuh hati.
Di tengah-tengah banyak orang mengeluh menganggur -tapi tangan terus bermain hape- Santo contoh bagaimana semestinya orang hidup untuk mencari makan: kreatif dan tidak malu melakukan apa pun sejauh itu halal. Persoalannya, sebagian besar kita kadang memiliki gengsi untuk hal demikian.
Santo Suruh melakukan apa saja dengan tulus dan gembira. Yang dilakukannya kemudian menginspirasi sejumlah orang mengikuti jejaknya. Di Solo muncul seseorang yang juga mengiklankan dirinya untuk sudi disuruh-suruh. Seperti Santo di Bekasi, ia juga mendapat banyak order.
Santo Suruh memberi pelajaran lain untuk kita: dalam hal apa pun kejujuran dan etika berada paling depan. Di luar itu persoalan mencari dan mendapat pekerjaan adalah hal kreatif. Dan “hidup”, seperti kata seorang budayawan, memang adalah “kata kerja.” []