Ilustrasi (unsplash)
Baca juga: Media
Oleh: Lestantya R. Baskoro
Bangsa yang bahagia adalah bangsa yang tidak memiliki sifat pamer dan membanding-bandingkan. Demikian prinsip hidup warga Finlandia, negeri yang dulu dikenal sebagai penghasil telepon genggam sejuta umat “Nokia.”
Terletak berbatasan dengan Rusia, Finlandia merupakan salah satu dari “negeri-negeri skandinavia,” selain Swedia, Denmark, dan Norwegia. Negeri-negeri makmur yang dikenal memiliki sejarah panjang dalam hal kemaritiman.
Sama dengan Finlandia, Swedia, atau Denmar, juga Norwegia merupakan negara yang masyarakatnya memiliki tradisi untuk hidup selaras dengan alam, tidak memiliki kecenderungan memamerkan kekayaan, dan memiliki nilai-nilai kejujuran.
Tidak heran jika Finlandia, misalnya, menduduki negeri dengan predikat “zero korupsi.” Selama tujuh tahun berturut-turut hingga kini, World Happiness Record, menobatkan Finlandia sebagai “bangsa paling bahagia di dunia.” Ada pun Denmark, Swedia, dan Norwedia, juga masuk dalam tujuh negara yang paling bahagia di dunia.
Sebuah survei pernah dilakukan terhadap seratus lebih negara oleh sebuah media internasional pada 2022 dengan cara menjatuhkan 12 dompet. Dari jumlah itu, di Filandia, sebelas diantaranya dikembalikan kepada “pemiliknya.” Kejujuran merupakan kunci tidak adanya korupsi.
Berbeda dengan negara lain, negara-negara Skandinavia ini memungut pajak sangat besar terhadap warganya, sekitar 30 persen –hal yang jauh di atas pungutan pajak di Indonesia.
Dengan pajak sebesar itu, pemerintah di sana membangun berbagai fasilitas kesehatan dan pendidikan untuk rakyatnya, sehingga kesehatan dan pendidikan tersedia gratis. Para warga dengan sukarela dipotong pajak sebesar itu karena mereka percaya semua kembali pada mereka.
Welfare State -demikian sistem ekonomi negara-negara Skandinavia tersebut.
Sistem ini memikat pemuda Mohammad Hatta yang kala itu tengah studi di Belanda. Hatta menginginkan Indonesia pun memiliki sistem semacam itu. Hatta-lah arsitek Pasal 33 UUD 1945, yang mengharuskan bumi dan kekayaan alam Indonesia untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Sebuah mimpi dari tokoh Proklamasi yang dikenal sebagai sosok sederhana yang hingga kini semakin jauh dari terwujud. []