30 UMKM Binaan BI Kalteng Ikuti Pesona Tambun Bungai

Deputi BI Kalteng, Yudo Herlambang, pada saat mengunjungi stand UMKM di Metos Palangka Raya. (foto: kontenkalteng)

Sebanyak 30 usaha mikro kecil dan menegah (UMKM) binaan Bank Indonesia (BI) Kalteng akan mengikuti pameran Pesona Tambun Bungai (PTB) yang diselenggarakan awal Bulan Agustus 2022 di Bundaran Besar Palangka Raya, Kalteng. 

Baca juga: BI Kalteng Gelar Pesona Tambun Bungai 2022, Ajang Perkenalkan Produk Lokal

"Dampak pandemi sangat terasa bagi pelaku UMKM, banyak karyawan yang dirumahkan, UMKM yang gulung tikar karena tidak ada permintaan," kata Deputi Kantor Perwakilan BI  Kalteng, Yudo Herlambang, Sabtu (2/7/2022).

Dengan kondisi demikian, perlu adanya upaya dalam menciptakan suatu permintaan, seperti melakukan penjualan melalui media sosial hingga pelaksanaan pameran atau Expo.

Untuk itu, dalam pameran PTB yang akan dilaksanakan pada awal Agustus 2022 mendatang, akan ada sekitar 30 pelaku UMKM yang terlibat di pameran yang dilaksanakan di sekitar Bundaran Besar Kota Palangka Raya.

"Jadi kenapa kita laksanakan di Bundaran Besar. Karena memang di sana itu kan merupakan pusat keramaian. Tentu bisa lebih mudah mengundang masyarakat secara luas," ucapnya.

Lebih lanjut Yudo Herlambang mengatakan, dalam kegiatan PTB tersebut, pihaknya akan menampilkan UMKM di bidang Wastra atau produk hasil kain, Kriya atau produk hasil kerajinan tangan dan produk kuliner lokal.

Selain itu, melalui kegiatan PTB tersebut, pihaknya juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat terkait istilah atau nama yang benar dari suatu produk lokal.

"Misalnya saja seperti produk Benang Bintik. Masyarakat kerap menyebut dengan nama batik Kalteng. Padahal nama yang sebenarnya Benang Bintik," ujarnya.

Selain itu, dengan banyaknya masyarakat yang berkunjung ke pameran PTB tersebut. Pihaknya juga berharap akan berdampak pada pemulihan ekonomi pada sektor pariwisata.

Seperti pelaku UMKM, sektor pariwisata juga turut terkena imbas dari dampak pandemi covid-19. Berbagai kebijakan, seperti adanya larangan berkerumun, menjadikan objek pariwisata harus ditutup dan kehilangan penghasilan.

"Dengan banyaknya kegiatan, dampaknya bisa terasa langsung. Karena masyarakat dari luar daerah itu pasti datang ke sini. Sehingga bisa berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat," pungkasnya. (OR2)