Ilustrasi (pixabay)
Kebijakan pemerintah yang melarang ekspor produk sawit beserta turunannya termasuk juga bahan baku minyak goreng berlaku mulai 28 April hingga 23 Mei 2022 sangat berpengaruh terhadap turunnya harga tandan buah segar (TBS) petani sawit di Kalteng.
Baca juga: BI Kalteng : Industri Kelapa Sawit Mampu Bertahan Saat Pandemi
“Jelas memberikan dampak. Karena selain menurunnya harga TBS petani yang cukup siginifikan akibat tidak terserapnya TBS karena stok di pabrik kelapa Sawit (PKS) yang menumpuk,”jelas Kepala Kantor Perwakilan (Kpw) BI Kalteng Yura Djalins, Jumat (10/6/2022) dalam keterangan tertulis.
Dijelaskannya, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, penurunan harga minyak goreng juga turut terjadi di Kalimantan Tengah dengan besaran yang beragam, baik nilai rupiahnya maupun jenis minyak gorengnya.
Kepala Kpw BI Kalteng Yura Djalins (foto; dok humas BI Kalteng)
Dari data Tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun Provinsi Kalteng untuk harga TBS periode bulan Mei 2022 yang dirilis Dinas Perkebunan Kalteng Selasa (7/6/2022), harga TBS kelapa sawit masih mengalami penurunan.
Untuk umur tiga tahun Rp. 2.090,78, Umur empat tahun Rp. 2.283,41, Umur lima tahun Rp. 2.467,30, Umur enam tahun Rp. 2.539,13, Umur tujuh tahun Rp. 2.589,48, Umur delapan tahun Rp. 2.705,05, Umur sembilan tahun Rp. 2.776,49, Untuk tanaman pada kelompok umur 10 – 20 tahun adalah Rp. 2.859,39 per Kg.
Kemudian harga minyak sawit periode Mei 2022 Rp. 12.721,03 (per Kg + PPN) Harga ini engalami penurunan sangat signifikan bila dibandingkan periode bulan April 2022 sebesar Rp. 15.820,62.
“Memang kebijakan ini (larangan ekspor kelapa sawit) tidak langsung direspon pasar, namun cukup efektif memberikan shock sehingga berdampak pada turunnya harga minyak goreng meskipun tidak besar,”jelas Yura Djalins. (OR2)