Rawing Rambang, Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalteng (ist)
kontenkalteng.com,Palangka Raya-Industri kelapa sawit saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sederet permasalahan kini tengah menggelayut di sektor usaha yang padat modal dan tenaga kerja itu.
Baca juga: BI Kalteng : Industri Kelapa Sawit Mampu Bertahan Saat Pandemi
Sejumlah permasalahan seperti isu lingkungan, deforestasi, konflik lahan datang silih berganti seolah tak pernah henti.
Disisi lain permasalahan seperti regulasi dan sertifikasi yang semakin ketat juga menjadi beban tersendiri bagi pelaku usaha
Lantas apa yang harus dilakukan para pelaku usaha disektor ini agar tetap bertahan, kemudian apa keuntungannya bagi daerah, wartawan kontenkalteng.com melakukan wawancara dengan Rawing Rambang, Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (GAPKI ) Cabang Kalteng.
Pria Dayak pemilik gelar Doktor Ilmu Lingkungan Bidang Konsentrasi Pengelolaan Sumber Daya Lahan Gambut Berkelanjutan (PSLGB) dan pernah menjabat Kepala Dinas Perkebunan Kalteng, menjawab lugas semua pertanyaan yang diajukan dirumahnya yang asri dibilangan Jalan Tingang, Palangka Raya, Kamis (24/7/2025)
Ilustrasi truk pengangkut hasil kelapa sawit (Foto:kontenkalteng.com)
Bagaimana gambaran singkat industri kepala sawit di Indonesia? seberapa besar kontribusinya untuk negara dan masyarakat?
Industri ini banyak menyerap tenaga kerja. Untuk tenaga kerja langsung saja jumlahnya mencapai 4,2 juta orang. Sedangkan untuk tenaga kerja tak langsung jumlahnya mencapai 12 juta orang.
Untuk diketahui, berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, pada Tahun 2023 Indonesia memiliki luas kebun sawit mencapai 16,3, 8 juta hektar (Ha).
Rinciannya luas perkebunan besar sebesar 59 % dan perkebunan rakyat seluas 41%. Sementara untuk produksi crude palm oil (CPO) sebesar 48 juta ton.
Komoditi ini pada tahun 2022 pernah eksport dengan nilai Rp 600 Triliun ( 39 M US$) atau melebihi eksport Migas.
Menurut anda apa keuntungan bagi daerah dengan adanya industri sawit ini?
Keuntungannya tentu sangat banyak, antara lain pemanfaatan lahan-lahan kristis atau marginal serta pengembangan industri hilir berbasis Sawit. Komoditi ini sangat cocok tumbuh di daerah tropis.
Contoh lain, sebagai pengembangan wilayah baru, Sequestration ( penyerapan ) CO2 menjadi O2.
Sampai saat ini tidak ada komoditi lain yang bisa mengungguli sawit.
“Ini yang saya sebut sawit sangat mempesona dan menggoda” .
Bisa dijabarkan apa maksudnya sangat mempesona dan menggoda itu?
Karena selain terdapat 193 jenis produk industri hilir yang dihasilkan oleh sawit, sampai saat ini tidak ada komoditi lain yang bisa mengungguli sawit
Sedangkan dalam dalam perdagangan global Indonesia merupakan produsen terbesar yaitu 65 % dan eksportir 61 %.
Apa tantangan dan hambatan yang dihadapi para pelaku yang menggeluti usaha ini.
Melihat gambaran tentang komoditi sawit diatas, tentunya banyak tantangan dan hambatan baik yang berasal dari Luar negeri ( global ) ataupun dalam negeri.
Untuk tantangan global seperti pemberlakuan tarif impor dari USA, perkembangan geopolitik yang tidak menentu, juga gencarnya kampanye negatif di luar negeri.
“Sedangkan untuk tantangan dalam negeri antara lain produksi dan produktifitas stagnan bahkan cenderung menurun. Kemudian tidak jelasnya kepastian hukum dan kepastian berusaha juga adanya kebijakan energi dan biodiesel”.
“ Secara keseluruhan tahun 2025 merupakan tahun penuh tantangan dan dinamis, baik ketersedian, eksport maupun harga”.
Menurut anda apa yang perlu dilakukan agar industri sawit tetap eksis dan bertahan
Industri kelapa sawit nasional perlu mengatasi berbagai tantangan untuk memastikan keberlanjutannya.
“Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani, serta penerapan inovasi teknologi dan diversifikasi produk, menjadi kunci untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada”.
Apa harapan anda agar sawit bisa terus memberikan kontribusi bagi nasional dan masyarakat.
Kita berharap dengan melihat peranan dan tantangan kelapa sawit, komoditi ini tetap menjadi pesona serta tulang punggung perekonomian nasional.
“Kelapa Sawit makin maju , berkembang serta memberi kesejahteraan nyata bagi bangsa Indonesia dan sejalan dengan Program Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto”
(Dhanny-OR1)