Pengamat Perkebunan asal Kalteng, Dr. Ir Rawing Rambang, MP (Foto:kontenkalteng.com).
kontenkalteng.com,Palangka Raya-Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Baca juga: Kemamputelusuran Produk Sangat Penting dalam Industri Kelapa Sawit
Meski Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit besar di dunia, namun keberadaan kelapa sawit di negeri ini oleh beberapa pihak masih dianggap sebagai penyebab kerusakan hutan, deforestasi hingga penyebab penyakit.
“Industri kelapa sawit sering diselimuti dengan berbagai isu yang sayangnya banyak mitos, simpang siur dan bukan fakta. Contohnya isu lingkungan, sosial hingga kesehatan, “kata pengamat perkebunan asal Kalteng, Dr. Ir Rawing Rambang, MP di Palangka Raya, Senin (5/1/2026).
Rawing kemudian menyebutkan beberapa mitos tentang kelapa sawit yang sering digaungkan, antara lain disebutkan sawit penyebab terjadinya penyakit kanker.Padahal faktanya sawit tidak mengandung koresterol dan bahkan mengandung vitamin E.
Kemudian industri sawit di katakan tak menyerap banyak tenaga kerja. “Padahal faktanya industri ini menciptakan jutaan lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran tak hanya bagi negara penghasil tapi juga negara importir seperti China dan India,”paparnya.
Rawing Rambang yang pernah menjabat kepala dinas perkebunan Kalteng ini juga menyebutkan mitos lain seperti disebutkan boros air.
“Padahal faktanya, dari penelitian menunjukan sawit justru paling hemat air 75 m3 per gigajul bio energi Bandingkan dengan dengan brape seed 184, kelapa 126 dan kedelai 100,”ujarnya.
Isu santer lain yang juga gencar dihembuskan yakni sawit dikatakan sebagai penyebab utama deforestasi danperubahan iklim. Faktanya yakni deforestasi memang tantangan tapi perubahan iklim jauh lebih kompleks
Kemudian disebutkan sawit hanya menguntungkan pengusaha besar. Faktanya, sawit berkontribusi besar pada devisa negara PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) serta Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta pembangunan desa melalui program CSR (Corporate Social Responsibility).
“Jadi kita berharap agar saat menilai kelapa sawit sebaiknya di dasari dengan data ilmiah dan bukan lewat asumsi. Sebab kebenaran palsu akan mengalahkan fakta dan inilah stategi black campaign,”tegasnya.
Penulis : Dhanny
Editor: Baskoro