Pelajar SDN 4 Ketapang Sampit sukses melahirkan inovasi minuman herbal. (Foto: Ist)
Sampit, Kontenkalteng.com– Lahan yang dulu hangus terbakar di lingkungan SDN 4 Ketapang kini berubah fungsi menjadi ruang belajar hidup bagi para siswa.
Baca juga: Makyus! 9 Sambal Khas Nusantara Yang Pedas dan Menggugah Selera
Dari petak tanah itu, anak anak mulai menanam dan mengolah bawang dayak hingga melahirkan inovasi minuman herbal, buah dari pembelajaran berbasis praktik yang diperkuat lewat pendampingan Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI) Trakindo.
Asykuriah, guru sekaligus Ketua Adiwiyata SDN 4 Ketapang, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari pendekatan belajar yang mengajak siswa mengenali potensi di sekitar mereka dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
”Inovasi olahan bawang dayak ini tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses yang cukup panjang. Awalnya kami hanya mengolah secara sederhana, kemudian terus dikembangkan agar lebih praktis dan mudah dikonsumsi,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, eksplorasi siswa terhadap bawang dayak semakin berkembang.
Dari sekadar rajangan biasa, mereka mulai bereksperimen untuk menghasilkan produk yang lebih praktis dan mudah dikonsumsi, baik melalui kegiatan di kelas maupun di luar kelas.
”Dalam beberapa percobaan awal, hasilnya belum sesuai harapan. Bawang dayak yang seharusnya menjadi serbuk justru berubah seperti dodol karena prosesnya belum tepat. Tapi dari situ anak-anak belajar untuk terus mencoba dan memperbaiki, sampai akhirnya bisa mendapatkan hasil yang diinginkan,” tambah Asykuriah.
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya menyentuh aspek produk, tetapi juga cara belajar siswa.
Mereka dilatih mengidentifikasi masalah, mencoba berbagai solusi, dan mengambil pelajaran dari setiap proses.
Pola ini mendorong lahirnya inovasi, termasuk dalam pengolahan bawang dayak.
Selain bercocok tanam dan mengolah bahan, siswa juga dilibatkan untuk menjelaskan proses pembuatan dan manfaat bawang dayak kepada pengunjung atau pihak luar, sehingga mereka terbiasa menyampaikan ide serta hasil kerja secara langsung.
Anak-anak yang semula pasif perlahan menunjukkan kepercayaan diri lebih tinggi, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.
”Awalnya saya sempat takut kalau harus maju dan menjelaskan di depan orang lain. Tapi setelah sering mencoba, sekarang jadi lebih berani. Bahkan saya senang kalau diminta menjelaskan proses pembuatan bawang dayak ke orang lain,” ujar Nafisa, salah satu siswa SDN 4 Ketapang.
Dukungan terhadap inovasi ini pun terus menguat. Sekolah lain, komunitas pendidikan, hingga perwakilan pemerintah daerah datang langsung untuk melihat dan mempelajari pendekatan pembelajaran yang diterapkan.
Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Perdagangan setempat ikut terlibat memastikan aspek kualitas, keamanan, dan pengembangan produk.
Kolaborasi dengan Puskesmas mendorong pemanfaatan tanaman herbal di masyarakat, sementara Bank Kalteng menyediakan dukungan ruang produksi dan galeri penjualan sehingga siswa mulai memahami alur distribusi dan cara berinteraksi dengan konsumen.
”Awalnya kami hanya ingin anak-anak bisa membuat sesuatu yang bermanfaat. Tapi ternyata berkembang lebih jauh dan kini sering dipesan untuk kebutuhan acara di tingkat pemerintah daerah. Sekarang bukan hanya siswa yang belajar, tetapi masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya. Ada yang datang untuk membeli, ada yang meminta bibit, bahkan sekolah lain datang untuk belajar. Dari situ kami melihat bahwa ketika pembelajaran dilakukan dari hal yang dekat dengan mereka, dampaknya bisa meluas,” jelas Asykuriah.
Melalui Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI), pendekatan pembelajaran berbasis tantangan diterapkan untuk mendorong siswa lebih aktif mengeksplorasi potensi di sekitar mereka.
Pendampingan ini membantu siswa menggabungkan pemahaman teori dengan pengalaman nyata saat menghadapi dan menyelesaikan tantangan di lapangan.
Firman Apriandi, pendamping Program GENERASI Trakindo, menilai pengalaman di SDN 4 Ketapang mencerminkan bagaimana pembelajaran berbasis tantangan dapat membentuk pola pikir yang terus berkembang.
”Kuncinya ada di growth mindset atau pola pikir untuk terus tumbuh dan berkembang. Bu Asykur sebagai penggerak di SDN 4 Ketapang tidak berhenti pada satu inovasi, tetapi selalu terbuka untuk mencoba hal baru dan melihat tantangan sebagai peluang. Itu yang membuat inovasi di sekolah ini bisa berjalan konsisten, karena yang dibangun bukan hanya programnya, tetapi juga cara berpikirnya,” katanya.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong transformasi pembelajaran di sekolah.
Upaya tersebut dipertegas lewat pendampingan yang mendorong sekolah mengembangkan cara belajar yang lebih kontekstual dan dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa.
”Melalui Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI), Trakindo mendorong inovasi di tingkat sekolah sekaligus membangun pola pikir pembelajaran yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Kami melihat bahwa ketika sekolah konsisten mengembangkan cara belajar seperti ini, dampaknya dirasakan tidak hanya oleh siswa, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya,” ujar Candy Sihombing, Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama.
Penulis : Yanti
Editor : Gunawan