Kondisi jalan di Desa Tumbang Kalan, Kecamatan Antang Kalang, Kotim yang rusak parah. (Foto: Ist)
Sampit, Kontenkalteng.com – Jalan sepanjang sekitar 5,5 kilometer di Desa Tumbang Kalang, Kecamatan Antang Kalang, Kotawaringin Timur, berubah menjadi penghambat utama aktivitas warga setelah bertahun-tahun dibiarkan tanpa aspal.
Baca juga: Pembangunan Infrastruktur Jalan di Kecamatan Antang Kalang Terus Dilakukan
Tanah kuning yang menyelimuti badan jalan menjelma debu pekat saat kemarau dan kubangan lumpur licin ketika hujan turun.
Kondisi ini belum sampai memutus akses, tetapi cukup untuk melumpuhkan aktivitas ekonomi dan membahayakan keselamatan warga.
”Rusaknya belum sampai memutus akses, tapi sangat menghambat aktivitas warga dan ekonomi masyarakat. Kalau ada pasien darurat yang harus dirujuk ke puskesmas saat musim hujan, itu sangat memprihatinkan,” ujar Ahaw, warga setempat, Jumat (12/6/2026).
Ahaw menggambarkan kontras ekstrem yang dihadapi warga setiap musim. Saat kemarau, debu tebal menyelimuti perjalanan.
Sebaliknya, ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur licin yang membuat kendaraan kehilangan traksi dan kerap terjebak.
”Kondisi ini sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari warga, terutama akses ekonomi dan pelayanan kesehatan,” katanya.
Menurut Ahaw, ruas jalan menuju Kecamatan Antang Kalang yang belum beraspal kini hanya tersisa sekitar 5,5 kilometer.
Namun, kondisi fisiknya sudah jauh dari layak. Lapisan latrit yang dulu menjadi penopang jalan disebut telah lama habis, menyisakan tanah yang mudah hancur saat diguyur hujan.
”Jalan rusak ini masih tanah belum aspal. Latritnya juga sudah habis sejak lama,” ujarnya.
Padahal, jalan tersebut merupakan urat nadi mobilitas warga. Digunakan untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, hingga mengangkut hasil ekonomi masyarakat. Namun, alih-alih menjadi penghubung, kondisi jalan justru menjadi hambatan.
”Kendaraan roda dua maupun roda empat sering kesulitan melintas karena jalan yang berlumpur dan licin terutama saat hujan,” ungkapnya.
”Di sini sangat sulit, apalagi kalau hujan. Banyak kendaraan harus ambles di tengah kubangan lumpur.”
Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah, warga pedalaman Tumbang Kalang mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap kondisi jalan mereka.
Selain itu, muncul pula ketidakjelasan mengenai kewenangan penanganan, apakah menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten, provinsi, atau instansi lain.
”Masyarakat sebenarnya hanya ingin jalan ini diperbaiki supaya aktivitas tidak terganggu setiap musim hujan,” tegas Ahaw.
Hingga kini, warga masih menunggu kepastian perbaikan jalan yang menjadi jalur vital tersebut.
Tanpa penanganan serius, jalan tanah ini akan terus menjadi penghambat utama bagi mobilitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Tumbang Kalang.
Penulis: Deviana
Editor : Gunawan