Dari Hobi Jadi Rezeki, Pisau Buatan Amang I’in Diburu Jelang Iduladha

Amang I'in saat menunjukkan pisau buatannya. (FOTO : DEVIANA)

Sampit, Kontenkalteng.com - Menjelang Iduladha, denyut usaha rumahan di sudut Jalan Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, kian terasa sibuk. 

Baca juga: Ini Bacaan Doa Pada Malam Nisfu Syaban

Di sana, Surya Dinar, yang akrab disapa Amang I’in, berpacu dengan waktu memenuhi lonjakan pesanan pisau sembelih kurban yang datang dari berbagai penjuru.

Semua bermula dari hobi sederhana; mengoleksi pisau. Namun, ketertarikan itu perlahan berubah menjadi keterampilan, lalu menjadi usaha yang kini mendatangkan penghasilan.

”Awalnya cuma suka pisau, lalu coba bikin sendiri. Lama-lama ternyata banyak yang suka. Semula cuma teman-teman yang pesan, sampai sekarang jual untuk masyarakat umum,” ujar Amang I’in penuh semangat saat ditemui, Selasa (19/5/2026).

Momentum Iduladha menjadi musim panen bagi usahanya. Permintaan meningkat tajam, bahkan sudah diantisipasi sejak jauh hari.

”Kami biasanya produksi pisau sesekali, terutama saat momen-momen seperti Iduladha ini,” tuturnya.

Untuk menjaga kualitas, Amang I’in memilih bahan baku dari baja mata gergaji serkel.

Meski tanpa proses tempa yang rumit, pisau buatannya dikenal kuat dan tajam. Ia bahkan dengan mudah membuktikan ketajamannya dengan menyayat selembar kertas hingga terbelah halus.

”Bahannya dari baja gergaji serkel, dibentuk pakai gerinda, lalu dipanaskan dan disepuh,” jelasnya.

Setiap bilah pisau dikerjakan dengan ketelitian. Untuk pisau sembelih lengkap dengan gagang dan sarung, waktu pengerjaan bisa mencapai satu minggu. Sementara pisau seset daging yang lebih kecil rampung dalam dua hari.

”Pisau sembelih panjangnya 25 sampai 40 centimeter, sementara pisau seset sekitar 15 sampai 20 centimeter,” terangnya.

Ciri khas utama terletak pada gagang pisau yang menggunakan kayu ulin—kayu khas Kalimantan yang dikenal kuat dan tahan lama. Sentuhan ini memberi identitas tersendiri pada setiap karya Amang I’in.

”Yang jadi pembeda itu di gagangnya pakai kayu ulin, jadi lebih khas dan kuat,” imbuhnya.

Untuk harga, pisau sembelih lokal dijual mulai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, sementara varian premium bisa menembus Rp1 juta lebih. Ia juga menyediakan pisau impor dengan harga yang lebih tinggi.

”Tiap pisau untungnya sekitar Rp50 ribu untuk pisau seset dan sampai Rp200 ribu untuk pisau sembelih, tergantung ukuran dan jenis bahan,” katanya jujur.

Usahanya terus berkembang. Pada Iduladha tahun lalu, ia mampu menjual lebih dari 40 pisau sembelih dan 100 pisau seset daging. Pasarnya pun meluas, tak hanya di Sampit, tetapi hingga ke luar Kalimantan seperti Pulau Jawa dan Sulawesi.

”Alhamdulillah sekarang sudah ada pelanggan dari luar Kalimantan juga, terakhir kirim ke Palu,” tandasnya dengan nada haru.

Kisah Amang I’in menjadi bukti bahwa hobi yang ditekuni dengan konsisten bisa tumbuh menjadi sumber penghidupan. 

Dari sebuah bengkel sederhana, ia tak hanya mengasah bilah pisau, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal. Sekaligus menjaga sentuhan kearifan bahan alam Kalimantan.

Penulis: Deviana 

Editor  : Gunawan