Balai Keramat Raja, tempatnya leluhur(dok.kontenkalteng.com)
Palangka Raya- Miniatur bangunan rumah bertongkat terbuat dari kayu ulin (kayu besi) ukuran sekitar 3 meter x 3 meter berdiri kokoh dihalaman depan Rumah Betang, Sekretariat Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng di Jalan RTA Milono Palangka Raya, Kalteng. Warna kuning dan hijau nampak mendominasi.
Baca juga: Yuk, Kepoin Destinasi Wisata Sekitar Ibu Kota Negara Baru
Warna kuning keemasan yang melambangkan permata mendominasi, kemudian hijau (kesuburan); bangunan itu bernama Balai Keramat Raja.
Dua patung berwujud wajah lelaki dan perempuan nampak berada disisi kanan dan kirinya bangunan yang tingginya sekitar 1,5 meter dari atas tanah.
Untuk mendirikanya harus melalui serangkaian upacara ritual seperti Balian Nampung, Mapuput Hajat, Palus Mampendeng Balai Karamat Raja.
Basir saat mendoakan pembangunan Balai Keramat Raja (dok.kontenkalteng.com)
Balai Keramat Raja ini mempunyai arti filosofi yakni tanah yang digunakan manusia saat ini pada zaman dahulu merupakan hutan belantara tempat para roh halus dan lelulur hidup.
Namun pada perkembangannya, sekarang digunakan manusia untuk alam terbangun antara lain rumah tempat tinggal untuk kehidupan.
“Balai Keramat Raja ini dibangun sebagai wujud penghormatan kita terhadap alam dan meraka yang dulu hidup disini. Kita buatkan tempat ini agar mereka tidak mengganggu tapi sebaliknya menjaga kita. Intinya kita hidup berdampingan dengan mereka sana”kata Parada, Ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan Kota Palangka Raya, Kamis (29/12/2022).
Pada setiap rumah warga Hindu Kaharingan biasanya memang ada bangunan keramat itu. Dan kebetulan rumah betang yang saat ini dilakukan upacara ini belum ada keramatnya.
” Karena ini rumah betang baru maka dibikin ini dibikinkan untuk leluhur,”ujarnya.
Dijelaskan Parada, untuk ritual pembangunan Balai Keramat Raja akan dipimpin oleh Basir (ulama) Hindu Kaharingan.
Ritual akan diawali dengan menggali sejumlah lubang ditanah disekitar tempat yang nantinya akan didirikan Balai Keramat Raja.
Setelah itu memasukan kedalamnya sejumlah bahan makan dan benda antara lain kemenyan, tali tenggang, telur ayam, rokok, beras juga minyak kelapa.
Dijelaskan Parada, semua benda dan makanan yang dimasukan dalam tanah itu mempunyai maksud dan filosopi masing-masing.
Misalnya, telur ayam yang telah dipecahkan maksudnya yakni untuk pendinginan. Beras yang merupakan bahan pangan pokok ini digunakan sebagai sebagai alat komunikasi dengan leluhur, minyak kelapa untuk menghindari hal-hal yang kurang baik.
“Kemudian tali tengang dari kulit kayu melambangkan kekuatan dan rokok adalah untuk persembahan kepada para leluhur,”jelasnya.
Nantinya setelah berdiri, Balai Keramat Raja ini tidak ada perawatan atau upacara khsusus.
“Namun tempat ini akan kita beri sesaji bila nantinya ada kegiatan atau upacara,”katanya.(Sur-OR2)